Claudio Ranieri (Getty Images)

JAWASPORT.COM – Liga Champions kembali makan korban. Kali ini menimpa pelatih klub Italia, AS Roma. Pelatih Eusebio Di Francesco resmi dipecat setelah AS Roma mengalami hasil buruk di Liga Champions. Keputusan ini sangat wajar diambil mengingat Roma yang punya peluang lebih besar untuk mendapatkan tiket lolos.

Memang semua tim akan melakukan evaluasi terhadap kinerja pelatih hingga pemain. Bila tak sesuai ekspektasi publik. Maka siap-siap untuk ditendang dari klub dan dibiarkan mencari tim lain. Eusebio sepertinya sadar bahwa dia akan mengalami pemecatan setelah laga di FC Porto.

(BACA JUGA: Bernabeu Jadi Neraka Bagi Real Madrid)

Menang disanjung, kalah ditendang. Ungkapan ini cocok untuk menggambarkan keputusan petinggi AS Roma yang memecat Eusebio Di Francesco setelah mengevaluasi hasil laga leg kedua babak 16 Besar Liga Champions 2018-2019. Serigala Roma tersingkir setelah ditaklukkan FC Porto dengan skor 1-3 di Estadio Do Dragao, Kamis (7/3/2019) dini hari WIB.

Hasil ini membuat Roma harus melupakan tiket ke babak perempat final Liga Champions musim ini. Kesabaran petinggi AS Roma sepertinya sudah habis. Kekalahan tersebut membuat petinggi Roma murka yang kemudian menendang sang pelatih, Eusebio Di Francesco. Karena Roma datang ke markas Porto dengan modal kemenangan 2-1 di leg pertama. Sayangnya, di leg kedua berakhir dengan agregat 3-4, setelah kalah 1-3, dan Porto yang berhak lolos.

Sebenarnya ini puncak dari kemurkaan petinggi AS Roma setelah di bawah kepemimpinan Eusebio bukan hanya gagal di Liga Champions. Tapi Serigala Roma kehabisan tenaga di level domestik untuk bersaing di papan atas klasemen Serie A Italia. Saat ini Roma hanya mampu mengambil posisi di urutan kelima dalam kompetisi Liga Italia. Ini posisi yang tak memuaskan mengingat Roma adalah petarung di level atas.

(BACA JUGA: Ambisi Cristiano Ronaldo Bersama Juventus) 



Dilansir dari www.skysports.com, berkembang isu bila manajemen Roma melirik Claudio Ranieri sebagai pengganti Eusebio. Dia bahkan menjadi pilihan utama untuk memimpin AS Roma. Apalagi, pelatih berjuluk “The Tinkerman” (Tukang Utak Atik) sedang menganggur setelah di ‘PHK’ oleh Fulham.

Nasib Ranieri berakhir di Liga Inggris akibat kekalahan Fulham dari Southampton (28/2/2019). Jejak pelatih kelahiran Roma ini di klub berjuluk The Cottagers hanya mampu meraih tiga kemenangan dari 17 laga. Pelatih yang mencatat prestasi terakhir membawa Leicester City meraih trofi Premier League musim 2015-2016 ini mulai bertugas di Fulham pada November lalu.

Di dunia kepelatihan, Ranieri layaknya profesor. Karena pengalaman menangani berbagai klub diberbagai kompetisi. Keberhasilannya membawa Leicester City juara menjadi bukti nyata paling terakhir tentang ke piawaiannya dalam meramu tim. Karena mampu menyisihkan para raksasa Premier League semisal Manchester City, Liverpool, Tottenham Hotspur, Manchester United, Arsenal dan Chelsea.

(BACA JUGA – Ini ‘Grup Neraka’ Liga Champions 2018-2019)

Bahkan media Inggris pernah menjulukinya sebagai The Tinkerman (Tukang Utak Atik). Julukan Tinkerman mulai melekat kepada Ranieri ketika menangani Chelsea pada 2002-03. Gara-garanya, media Inggris menilainya terlalu sering mengutak-atik (merotasi atau menggonta-ganti) skuatnya.

Setidaknya, hasil utak-atik Ranieri pada saat itu membuahkan tiket Liga Champions buat Chelsea. Tiket penting ini usai finis keempat berkat keberhasilan mengalahkan Liverpool (2-1), yang lantas finis kelima, di hari terakhir musim.

Jika Si Tukang Utak Atik jadi merapat ke AS Roma. Tugasnya adalah mengutak atik skuad Seriga Roma untuk berada di jalur yang benar. Terutama mendapatkan tiket lolos ke Liga Champions. Ini mungkin tugas yang bakal dibebankan kepadanya disamping memperbaiki mengembalikan harga diri Roma di pentas Serie A.(*)

Source Photo: 1




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here